Rabu, 26 Maret 2014

Protokol DNS

PROTOKOL DNS
1.       Sejarah Protokol DNS
Sebelum muncul dan digunakannya DNS (Domain Name System), jaringan komputer menggunakan HOSTS.TXT dari SRI dan sekarang diganti menjadi SIR International yang berisi informasi dari nama komputer dan IP address-nya. Di Internet, file ini dikelola secara terpusat dan di setiap lokasi harus di copy versi terbaru dari HOSTS files. dari sini bisa dibayangkan betapa repotnya jika ada penambahan 1 komputer di jaringan, maka kita harus copy versi terbaru file ini ke setiap lokasi. Dengan makin meluasnya jaringan internet, hal ini makin merepotkan, akhirnya dibuatkan sebuah solusi dimana DNS di desain menggantikan fungsi HOSTS files dengan kelebihan unlimited database size dan performace yang baik.
Paul Mockapetris menemukan DNS di tahun 1983 spesifikasi asli muncul di RFC 882 dan 883. Pada tahun 1987 penerbitan RFC 1034 dan RFC 1035 membuat update terhadap spesifikasi DNS. Hal ini membuat RFC 882 dan RFC 883 tidak berlaku lagi. Beberapa RFC terkini telah memproposikan beberapa tambahan dari protokol inti DNS.
2.       Pengertian Protokol DNS

DNS (Domain Name System) adalah distribute database system yang digunakan untuk pencarian nama komputer atau mengkonversi nama host/domain menjadi IP addres (forward lookup) dan sebaliknya dari IP address menjadi nama host/domain(reverse lookup). DNS biasa digunakan pada aplikasi yang terhubung ke Internet seperti web browser atau e-mail, dimana DNS membantu memetakan host name sebuah komputer ke IP address. Selain digunakan di Internet, DNS juga dapat di implementasikan ke private network atau intranet.

DNS dapat disamakan fungsinya dengan buku telepon. Dimana setiap komputer di jaringan Internet memiliki host name (nama komputer) dan Internet Protocol (IP) address. Secara umum setiap client yang akan mengkoneksikan komputer yang satu ke komputer yang lain akan menggunakan host name lalu komputer anda akan menghubungi DNS server untuk mencek host name yang anda minta tersebut berapa IP address-nya. IP address ini yang digunakan untuk mengkoneksikan komputer anda dengan komputer lainnya.
DNS memiliki strutur berbentuk hierarki atau tingkatan yang mirip dengan pohon yang memiliki beberapa cabang. Cabang-cabang ini mewakili domain, dan padat berupa host, subdomain, maupun top level domain.Struktur DNS merupakan sebuah hirarki pengelompokan domain berdasarkan nama, yang terbagi menjadi beberapa bagian di antaranya:
Root-Level Domains Domain ditentukan berdasarkan tingkatan kemampuan yang ada di struktur hirarki yang disebut dengan level. Level paling atas di hirarki disebut dengan root domain. Root domain di ekspresikan berdasarkan periode dimana lambang untuk root domain adalah (“.”).
Top-Level Domains Pada bagian dibawah ini adalah contoh dari top-level domains:
a) .com Organisasi komersial
b) .edu Institusi pendidikan atau universitas
c) .org Organisasi non-profit
d) .net Networks (backbone Internet)
e) .gov Organisasi pemerintah non militer
f) .mil Organisasi pemerintah militer
g) .num No telpon
h) .arpa Reverse DNS
 i) .xx dua-huruf untuk kode Negara (id:indonesia.my:malaysia,au:australia)
Top-level domains dapat berisi second-level domains dan hosts.
Second-Level Domains Second-level domains dapat berisi host dan domain lain, yang disebut dengan subdomain. Untuk contoh: Domain Bujangan, bujangan.com terdapat komputer (host) seperti server1.bujangan.com dan subdomain training.bujangan.com. Subdomain training.bujangan.com juga terdapat komputer (host) seperti client1.training.bujangan.com.
Host Names Domain name yang digunakan dengan host name akan menciptakan fully qualified domain name (FQDN) untuk setiap komputer. Sebagai contoh, jika terdapat fileserver1.detik.com, dimana fileserver1 adalah host name dan detik.com adalah domain name.
Gambar Struktur DNS


3.       Cara Kerja Protokol DNS

a.    Pada komputer klien, ketika user melakukan aktivitas yang meminta pencarian DNS melalui web browser (misalnya aplikasi http), program tersebut akan mengirimkan permintaan ke DNS Resolver yang ada di salam sistem operasi.
b.    DNS Resolver memiliki cache yang memiliki isi pencarian terakhir, jika cache dapat memberikan jawaban kepada permintaan DNS, resolver akan menggunakan nilai yang ada di dalam cache.
c. Kalau cache tidak memiliki jawabannya, resolver akan mengirimkan permintaan ke DNS server tertentu. DNS Server akan mengecek ke local database, jika ditemukan, maka DNS Server Lokal akan mengembalikan ke resolver, jika tidak ditemukan maka query akan diteruskan ke Root Server. Jika ditemukan, maka dari DNS Server akan memberitahu informasi IP address yang dimaksud, jika tidak maka DNS server akan mengirimkan pesan failure.
d. Informasi tentang IP address yang diperoleh dari pencarian DNS kemudian akan disimpan di cache.
e. Setelah informasi IP address diterima oleh klien, barulah klien secara langsung menghubungi web server dengan menggunakan IP address yang diberikan oleh DNS server.

Gambar Cara Kerja DNS




Sumber :


Tidak ada komentar:

Posting Komentar